Minggu, 26 Agustus 2012

Spamming = Sharing

Beberapa orang beranggapan bahwa segala hal yg terjadi tidak perlu dibesar-besarkan. At least cukup dia, Tuhan, dan orang-orang terdekatnya yang tahu. Saya setuju. Tapi sekarang ini ada beberapa media yang bahkan hal-hal kecilpun bisa tumbuh besar. Salah paham, salah maksud, dan salah tujuan dapat memicu misunderstanding. Apalagi jika ada orang yang marah atau curhat di jejaring sosial, sebut saja twitter. Postingan mereka beraneka ragam. Mulai dari yang happy sampai ke galau yang tingkatnya paling sulit disembuhkan. Bahasa yang digunakan pun juga ga sejalan. Ada yang to the point, ada yang sindir-sindiran, ada juga yang majas ironinya selembut sutra tapi nusuknya sampe beberapa kilometer.
Awalnya saya berpikir "tolonglah itu masalah pribadi, apa penting dibicarakan di media umum? Iya kalo yang dimaksud baca, kalo ga? Cuma buang energi dan nyebar aib sendiri kan?"
Curhat di dunia maya tidak akan menguntungkan kita, apalagi marah-marah ke mereka yang tidak ada di timeline. Tapi berdasarkan pengalaman, ternyata sharing di jejaring sosial memiliki makna tersendiri dan bisa membuat orang addicted. Mungkin kita tidak akan mendapatkan jalan keluar 100%, tapi disitu ada sebuah sisi yang melegakan. Postingan orang yang terlalu berlebihan biasanya kita anggap spamming, tapi bagi mereka semua itu adalah sharing. As we know, masalah sekecil apapun akan terasa sakit jika hanya dipendam sendiri. Itulah kenapa twitter atau jejaring sosial lainnya terpilih menjadi korban emosi yang cukup efektif. Apapun itu yang penting sang user berhasil mengungkapkan beberapa hal yang sebelumnya terpendam, tanpa perlu takut untuk tidak didengarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar